Pernah berada di tempat yang salah,
Pada saat yang benar2 salah?
Iya...seperti kemarin
Juga kemarin dulu
Seperti abadinya sebuah perubahan,
Ketika semua diakhiri,
Kemudian dimulakan di lain sisi
Ulurkan tanganmu,
Seperti kuberikan milikku,
Terimakasih untuk tetap kembali,
Disini...
Meski tiada yang terbilang ‘ada’
Masih ada yang bernama ‘tiada’
Bersama hujan dan pelangi di masa itu
Pada titik ini semua berhenti
(Ntah) nanti lagi kita bertemu...
....Sedang aku berkarya di lain waktu...

~ end ~

Aku melihat rumpun bunga di setapakmu, kekasih hati!
Dengan engkau adalah satu diantaranya
Biar saja orang berkata: 'sia-sia kau bercakap dengannya!'
Kau pikir aku punya telinga untuk mereka?
Tidak kali ini kekasih....
Karena dengan hati kita cukup bicara
Bahasa penyatu dua dunia..
Bahkan jika angin berputar haluan,
Membawa pergi pesan yang kuucapkan,
Aku tetap akan bernyanyi untukmu
Kudendangkan lagu perlahan
Agar damai kau dalam pembaringan
Dan kau kekasih kehidupan yang tak lagi teraba oleh alam,
Andai aku tahu apa yang malam itu kau tunggu
Untuk kau genggam dan bawa pulang,
Pasti kuberikan syair terindah untuk kau dengarkan,
Mengiringi langkahmu ke taman bunga di ujung perjalanan
Maafkan hatiku yang sedikit beku
Hingga tak mengerti sungguh apa yang kau rindu
Kini ijinkan ku dampingimu hingga tujuan
Rumah terindah yang dimana kekasihmu telah menantikan
Tidurlah dengan tenang....
Mimpi indah di duniamu yang baru...
Cinta yang kupunya, selalu kusimpan hingga habis masaku
Terimakasih kepada teman-teman atas doa dan ucapannya, terimakasih tak terhingga kepada Mas Is dan Bun Unai, Boy serta CAHANDONG yang telah turut mengiringi alm papa hingga ke peristirahatan terakhir.
Kami sekeluarga mengucapkan duka cita yang sedalam2nya atas dipanggilnya Ayahanda Mas Is, semoga arwah alm diterima disisiNya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan. Amin....
Jika hari ini alam menutup warna,
Memperkenalkan hanya hitam dan putih saja
Masih ku yakin warna bunga mana yang ku bawa serta
Bersama kesunyian akan ku berteman
Terimakasih untuk kalian
Atas potongan kertas yang pernah diberikan
Untuk kita satukan menjadi satu lembaran,
Dimana tertulis sepenggal cerita,
Bukan untuk sekedar dikenang...
*undur diri sejenak, hingga siap kaki2 itu berpijak*
Saat itu dinantikan, malam kembali berhias purnama..
Ketika tiba pada titik nol, menuju ke putaran berikutnya
Berawal dari ketiadaan,
(Anggap saja yang pernah ada adalah prakata)
Setelah kesendirian menjadi tuan
Hingga tak menghamba pada ’keberadaan’
Namun dititik nol .....dia ADA
Kata pujangga, hujan datang membawa sensasinya
Identik dengan kesedihan, kehilangan
Ah....lihat saja pelangi malu-malu menghias cakrawala,
Meninggalkan tetesan diatas hijau dedaunan,
Bukan lagi pedih yang terlihat bukan?
Anggap saja embun di pagi buta,
Yang kemudian hilang ketika mentari mengusir malam
Untuk entah kapan nanti,
Dia datang lagi...(terimakasih telah datang)
Di titik nol... dulu ku berada,
Di titik nol... kembali ku (padanya)
Untuk memulai satu putaran
Atas nama penantian...
Tanpa pupus harap sekedar hargai 'aku ada'
Ajari aku segala sesuatu....
Yang katamu 'hanya ada aku dan kamu'
Seperti kau mengajariku berucap
Tentang satu kata yang tak juga terungkap
Hingga di titik nol kembali ku berharap
*Andai boleh waktu kuputar ulang,
aku hanya ingin menjadi mawar merah muda yang pernah kau bawakan*
[[ My Stories ]]
Just to share...
I dedicate this for someone
Someone that I want him to stay
Stay there as I always pray
For us to be together
Even longer than forever
[My Other Stories]
[Past Poem]
March 2005
April 2005
May 2005
June 2005
July 2005
August 2005
September 2005
October 2005
November 2005
December 2005
January 2006
February 2006
March 2006
April 2006
May 2006
June 2006
July 2006
August 2006
September 2006
November 2006
December 2006
January 2007
February 2007
April 2008
[My Friends' Stories]
|
|